Terorisme Menurut Al-Qur’an

oleh : Ahmad Mutiul Alim

Terorisme merupakan tindak kejahatan yang marak dibicarakan akhir-akhir ini. Bukan hanya karena kerugian yang dihasilkannya, namun karena terma ini selalu mengarah kepada kelompok yang sama, yaitu Islam. Tragedi WTC pada tanggal 2001 menjadi gerbang sejarah untuk melekatkan slogan-slogan terorisme di tubuh Islam. Hingga sampai saat ini hal itu masih menjadi sebuah topik yang hangat untuk dilemparkan media kepada khalayak umum, seolah meyakinkan semua orang bahwa Islam=terorisme.

Tindakan ini seolah diamini pula oleh umat Islam sendiri. Perselisihan dalam tubuh Islam akibat pluralitas penafsiran, melahirkan orang-orang yang memiliki fanatisme yang berlebihan terhadap suatu kelompok. Dari sini lah kemudian lahir pengkafiran-pengkafiran yang mereka asumsikan sebagai bentuk loyalitas terhadap suatu kelompok, dan penentangan terhadap pemikiran yang berseberangan atau pun berbeda dengan kelompok mereka. Hal yang perlu diperhatikan bahwa loyalitas sebatas dalam hal yang diwajarkan adalah dibenarkan. Namun ketika loyalitas itu menjelma menjadi sebuah perebutan hak hidup, serta intimidasi-intimidasi yang berujung pada segala tindakan yang merugikan orang lain baik dari segi materi maupun non-materi, maka oleh publik itu sudah cukup dinamai sebagai tindakan terorisme. Artinya kehadiran mereka yang membawa isu keamanan (bom sana-sini), cukup mengkhawatirkan dan menyelubungi dunia di bawah bayang-bayang ketakutan.

Bagaimanakah sebenarnya Alquran memandang terorisme? Apakah tindakan seperti ini dibenarkan atau ‘pernah’ dibenarkan di dalam Islam? Apakah pluralitas harus melahirkan konsekuensi yang menakutkan seperti ini, atau ini hanya merupakan tindakan segelintr orang yang kurang memahami esensi beragama?

DEFINISI TERORISME

Secara bahasa, Terorisme merupakan gabungan dari kata ‘teror’ dan ‘isme’. Teror berasal dari bahasa latin terre yang berarti ‘tindakan yang dapat menyebabkan orang lain ketakutan’[1]. Menurut Federal Bureau of Investigation atau FBI, terorisme merupakan kekerasan yang bermotif politik dan dilakukan oleh agen negara atau kelompok sub nasional terhadap sasaran kelompok non kombatan (orang yang tidak ikut berperang tapi aktif di administrasi). Kemudian menurut KBBI, terorisme adalah penggunaan kekerasan untuk menimbulkan ketakutan dalam usaha mencapai tujuan (terutama tujuan politik); praktik tindakan teror. Definisis terorisme telah menjadi istilah yang multitafsir, setiap kelompok atau individu memiliki arti tersendiri mengenai definisi terorisme ini sesuai dengan faktor psikologisnya masing-masing. Terlepas dari persoalan di atas, kita telah sepakati bersama bahwa aksi terorisme merupakan segala bentuk tindak-tanduk sekelompok orang atau individu yang ingin menimbulkan kecemasan, ketakutan, dan kegelisahan di kalangan masyarakat luas di luar kelompoknya sebagai sebuah bentuk strategi politik dalam merealisasikan kehendak kelompoknya itu[2].

TERORISME DALAM ISLAM

Alquran selaku kitab yang diimani oleh seluruh umat Islam, menyimpan berbagai teori mulai dari teori ketuhanan hingga seluruh seluk beluk alam semesta. Bahasa Alquran yang universal, memantik berbagai pandangan untuk masuk dan memberikan penafsiran terhadap ayat-ayat yang terdapat di dalamnya. Konsekuensi akan lahirnya berbagai ideologi dan produk hukum menjadi harga mati yang tidak bisa diindahkan. Oleh karena itu kemudian perlu adanya sebuah sikap yang bisa menjembatani antara berbagai pandangan dan ideologi tersebut.

Fanatisme merupakan sikap yang menjadi cikal bakal lahirnya tindakan terorisme. Fanatisme merupakan keyakinan (kepercayaan) yang terlalu kuat terhadap suatu golongan[3], sehingga membutakan penganutnya untuk menerima dan menghargai kelompok di luar dirinya. Fanatisme lahir melalui sejarah yang panjang. Pada masa Nabi Muhammad, sikap-sikap seperti ini banyak dimiliki oleh suku-suku Quraisy. Namun Nabi dapat melunakkan sikap semacam ini, dan menanamkan sikap toleransi kepada seluruh umat Islam pada masa itu. Meskipun begitu, fanatisme tidak berhenti begitu saja. Sepeninggalan Nabi, umat Islam dihadapkan kepada permasalahan mengenai pluralitas penafsiran Alquran, yang memunculkan kembali fanatisme ke permukaan. Bisa kita lihat bagaimana bani Umayyah memegang erat-erat aliran Jabariah untuk mengeksiskan kekuasaannya. Sikap fanatismenya muncul ketika bani Umayyah secara tegas menolak dan menyesatkan aliran atau madzhab teologi selainnya. Hanya satu madzhab teologi yang boleh dianut oleh seluruh rakyatnya pada saat itu. Sikap terorisme yang muncul dari fanatisme ini kemudian tercermin ketika bani Umayyah menyerang dan melakukan intimidasi-intimidasi baik yang sifatnya politis maupun sosial kepada pihak-pihak yang berseberangan dengan madzhab atau ideologi negara.

Hal seperti ini kemudian diadopsi oleh para penganut suatu kelompok yang menanamkan keyakinan bahwa hanya kelompoknyalah yang paling benar. Pengkafiran serta pembid’ahan yang akhir-akhir ini dilakukan oleh salah satu kelompok Islam garis keras. Jargon jihad yang membalut seluruh tindakan terorisme yang mereka lakukan, cukup menyita perhatian publik. Sugesti serta eksplanasi yang mereka teriakkan kepada orang-orang yang tidak memiliki spaceuntuk bertoleransi, semakin menambah jumlah para teroris ini. Sebutan teroris adalah sebutan yang wajar ketika apa yang mereka lakukan merugikan orang lain, berjuang demi kepentingan yang sifatnya politis, berangkat dari rasa fanatik terhadap golongan, serta intimidasi yang dilakukan merenggut hak dan kebebasan orang lain.

Rasulullah semasa hidupnya dengan tegas melarang hal ini. Coba anda buka lagi lembaran sejarah dimana Rasulullah tidak mengusir orang yahudi ketika memasuki madinah, padahal jumlah beliau lebih banyak dari jumlah orang-orang yahudi. Serta memberikan kebebasan bagi orang-orang yahudi untuk beribadah tanpa adanya tekanan dari pihak manapun –dengan tidak memaksakan mereka untuk masuk kepada Islam-. Belum lagi peristiwa Fathu Mekkah, dimana Rasulullah dengan legowo membiarkan orang-orang kafir Quraisy untuk mencari tempat perlindungan bagi mereka. Akan tetapi sangat disayangkan umat beliau setelahnya tidak mempraktikan apa yang beliau contohkan dalam hal ini.

Fanatisme tidak semata-mata menjadi sebab tunggal akan munculnya terorisme. Terorisme dalam Islam juga muncul kala orang di luar Islam (baik kafir secara institusional maupun substansial) memberikan tekanan dan ancaman-ancaman tertentu kepada umat Islam, sehingga menimbulkan ketakutan serta perenggutan hak yang sifatnya individu, seperti hak kebebasan untuk hidup, hak untuk memilih, dan lain sebagainya. Ancaman serta tekanan seperti itu secara otomatis akan memberikan sikap defensif pada objeknya. Setelah tragedi WTC pada tahun 2001, Barat menyerukan jargon Islamofobia[4] yang membuat seluruh dunia merasa was-was dengan kehadiran umat Islam. Dari sana kemudian umat Islam di Barat ditekan dan dibatasi ruang geraknya, dan tidak jarang berujung pada perlakuan kekerasan kepada orang-orang yang menurut mereka terduga sebagai teroris. Label Islam sedemikian rupa dirusak, sehingga membangun dogma bahwa Islam sama dengan kekerasan dan terorisme.

Serangan psikologis semacam ini membuat umat Islam –yang mengalami dampaknya secara langsung- bereaksi dengan mempertahankan dirinya. Namun naas, umat Islam belum memiliki teknologi secanggih yang digunakan oleh Barat. Sehingga reaksi yang diberikan untuk tidak sebanding dengan apa yang telah dilakukan oleh Barat terhadap umat Islam. Sebenarnya yang perlu digaris bawahi adalah bahwa bukan tindakan defensif ini yang disebut dengan teroris, namun sikap defensif yang tidak pada waktu, kondisi dan tempatnya lah yang kemudian menggolongkannya menjadi teroris. Memberikan perlawanan terhadap Amerika yang membombardir negara-negara Islam di timur tengah bukanlah termasuk kategori teroris saya pikir. Karena politik adu domba yang dihembuskan oleh Amerika justru merupakan hal yang sangat riskan memecah belah umat Islam. Artinya perlawanan terhadap objek yang dianggap musuh haruslah berada pada waktu, kondisi dan tempat yang tepat. Namun aksi bom bunuh diri di Mall atau kedubes -yang saat ini trend di kalangan islamis jihadis- merupakan tindakan yang menyimpang, karena bukan pada tempat dan kondisi yang tepat. Sasaran yang dituju seringkali tidak jelas dan tak jarang bukan dari target yang sebenarnya. Bisa saja yang terkena dampaknya hanya orang biasa, pekerja kantoran, siswa, dan lain sebagainya, yang tidak ada hubungannya dengan tindakan yang muncul atas sikap defensif tersebut. Inilah yang –sekali lagi- menurut saya disebut sebagai teroris atau tindakan terorisme.

Dalam beberapa kesempatan, tak jarang kita mendengar seruan untuk melawan secara militan terhadap Barat –atau bisa dikatakan anti terhadap Barat-. Seruan-seruan tersebut memukul rata Barat dengan penggambaran bahwa Barat merupakan kelompok yang anti terhadap Islam, kelompok yang selalu memerangi Islam, oleh karenanya memeranginya juga termasuk kewajiban, dan halal ditumpahkan darahnya. Tindakan semacam ini tentu seruan yang sangat naif, serta berangkat dari analisis yang sangat dangkal. Mungkin ada beberapa persen yang menunjukkan sikap anti-nya terhadap Islam, namun selain itu masih banyak tokoh Barat yang memberikan sumbangsih terhadap ilmu pengetahuan keislaman, dan meluangkan waktunya untuk mempelajari Islam secara mendalam. Sebut saja Karen Armstrong dengan karya-karya monumentalnya tentang Nabi Muhammad dan pandangannya mengenai Islam secara kritis dan positif, atau Wilfred Cantwell Smith dengan karyanya Islam in Modern History[5]

Harus diakui bahwa cara kekerasan perlu dilakukan ketika cara halus sudah tak bisa mengkompromikannya. Namun sekali lagi, Nabi Muhammad tidak pernah mencontohkan umatnya untuk melakukan kekerasan di luar batas kewajaran. Artinya ketika perang memang diperlukan untuk menghentikan penetrasi musuh dalam menekan dan menganiaya umat Islam, maka rasul memerintahkan untuk berperang –jika memang cara negosiasi tidak membuahkan hasil-. Namun tetap saja ada larangan-larangan yang harus tetap dipegang. Seperti dilarang membunuh anak kecil, perempuan, menyiksa tahanan, membunuh dengan emosi, dan berbagai aturan lainnya yang mengisyaratkan bahwa berperang harus sesuai dengan kebutuhan. Dari sini dapat kita lihat, bahwa Rasulullah bukan sama sekali tidak mengajarkan kekerasan, namun kekerasan yang dicontohkan merupakan kekerasan dalam bentuk perlawanan yang sekadarnya –dengan sangat terpaksa-, dan tidak mengajarkan itu diluar sebab-sebab dan pertimbangkan yang dibenarkan oleh Al-qur’an.

Terakhir, ada banyak hal yang menyebabkan tindakan terorisme selain hal-hal yang dibicarakan diatas. Namun semua sebab-musabab itu tidak mungkin kita jelaskan disini satu persatu. Contoh sebab lainnya adalah radikalisme yang erat kaitannya dengan fanatisme.

ALQURAN DAN TERORISME

Berangkat dari definisi yang telah disebutkan di atas, terorisme merupakan tindak kejahatan yang sangat merugikan orang lain. Karena bagaimana pun setiap orang memiliki hak untuk hidup aman, dan terjamin kehidupannya. Sedangkan terorisme akan mengancam sekaligus memberikan rasa was-was kepada setiap individu dalam menjalani kehidupan. Lantas, bagaimanakah sebenarnya Alquran memandang terorisme? Apakah Alquran mengajarkan Islam

Islam adalah agama yang membawa rahmat dan berwatak toleran. Ia sangat mendambakan keadilan dan kedamaian serta menjunjung tinggi kemuliaan dan kebebasan manusia[6]. Fragmen ini bukanlah sebuah pepesan kosong belaka. Alquran sendiri menegaskan bahwa Nabi Muhammad SAW, selaku pembawa risalah Islam adalah seorang rasul yang diutus untuk menyempurnakan Akhlaq[7]. Selain itu, untuk mengaffirmasi bahwa Islam merupakan agama yang mencintai keadilan serta menjunjung tinggi kebebasan untuk memilih, Alquran menyebutkannya dalam surat Al-Kahfi : 60.

وَقُلِ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّكُمۡۖ فَمَن شَآءَ فَلۡيُؤۡمِن وَمَن شَآءَ فَلۡيَكۡفُرۡۚ ..

 

Dan katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir”..

Jika ditelusuri lebih mendalam, Islam masih memiliki rumpun yang sama dengan kata salama(س-ل-م) yang artinya keselamatan atau kedamaian. Islam sebagai agama pembawa keselamatan dan kedamaian tercermin dalam ucapan salam yang hampir selalu diucapkan oleh umat Islam setiap hari. Artinya tujuan keselamatan dan kedamaian selalu menjadi prioritas utama yang harus disebarkan dan tidak boleh sedikit pun lepas dari ingatan[8].

Berangkat dari hal diatas , jelaslah kiranya karakteristik Islam yang damai dan penuh rahmat. Dari itu, tidak ada tempat bagi kekerasan dan radikalisme, atau fanatisme atau terorisme, serta berbagai bentuk kelaliman yang merusak dan menghancurkan kehidupan dan atau hak milik orang lain. terlebih jika kita menyadari bahwa tujuan pokok ajaran Islam (مقاصد الشرعي) yang melindungi dan memelihara hak-hak manusia yang paling mendasar, khususnya hak hidup, hak beragama, hak memelihara akal, keluarga, dan kepemilikan. Tidaklah aneh karenanya bila Islam mengharakan berbagai bentuk tindakan kekerasan dan kelaliman kepada orang/golongan lain, sampai-sampai Islam menganggap kelaliman yang dilakukan kepada seorang manusia, sama artinya dengan melakukan kelaliman kepada manusia secara keseluruhan.[9] Allah berfirman :

مَن قَتَلَ نَفۡسَۢا بِغَيۡرِ نَفۡسٍ أَوۡ فَسَادٖ فِي ٱلۡأَرۡضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ ٱلنَّاسَ جَمِيعٗا وَمَنۡ أَحۡيَاهَا فَكَأَنَّمَآ أَحۡيَا ٱلنَّاسَ جَمِيعٗاۚ

…barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.[10]

Ayat diatas menekankan bahwa bagaimana Islam secara umum dan Al-Quran secara khusus telah menjaga hak-hak individu. Ayat ini menegasikan segala bentuk intimidasi-intimidasi yang sifatnya politis, fanatisme kelompok, atau tindakan otoriter.

Alquran dengan berbagai dimensi maknanya disini mencoba menutup sekecil-kecilnya celah bagi para penganutnya untuk melakukan kezhaliman yang dapat merugikan manusia yang lain. Alih-alih menemukan ayat untuk melakukan kerusakan dan terorisme –seperti yang dituduhkan Barat-, di dalam Alquran akan banyak ditemukan ayat-ayat yang menekankan pentingnya berkasih-sayang, toleransi, saling memaafkan, dan menjalin persaudaraan. Bahkan Alquran menjawab orang-orang yang keluar berperang atas dasar fanatisme kelompok (teroris agama) dengan ayat

قُولُوٓاْ ءَامَنَّا بِٱللَّهِ وَمَآ أُنزِلَ إِلَيۡنَا وَمَآ أُنزِلَ إِلَىٰٓ إِبۡرَٰهِ‍ۧمَ وَإِسۡمَٰعِيلَ وَإِسۡحَٰقَ وَيَعۡقُوبَ وَٱلۡأَسۡبَاطِ وَمَآ أُوتِيَ مُوسَىٰ وَعِيسَىٰ وَمَآ أُوتِيَ ٱلنَّبِيُّونَ مِن رَّبِّهِمۡ لَا نُفَرِّقُ بَيۡنَ أَحَدٖ مِّنۡهُمۡ وَنَحۡنُ لَهُۥ مُسۡلِمُونَ ١٣٦

 

Katakanlah (hai orang-orang mukmin): “Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma´il, Ishaq, Ya´qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun diantara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya”[11]

Sikap Islam atas semua Nabi sangat jelas; tidak dibedakan antara satu dan lainnya. Inilah yang sebenarnya deskripsi paling ideal bagi agama yang tidak sedikitpun mengamini fanatisme, sebaliknya sangat menghargai toleransi. Jika demikian halnya, maka suatu yang tidak beralasan jika Islam dihasut sebagai agama yang menebar benih-benih fanatisme di kalangan umatnya[12].

Islam dalam toleransinya menekankan kepada seluruh pemeluknya untuk membuka diri terhadap orang yang berada di luar Islam. Bahkan Islam mengajak agar penganutnya membalas sikap buruk terhadapnya dengan sikap yang lebih baik. Demikianlah Islam dengan jelas melarang sikap fanatisme, dan konsekuensi logisnya adalah Islam juga menolak berbagai bentuk anarksime dan terorisme. Meneror atau berbuat anarki kepada seorang manusia (saja) –dalam perspektif Alquran-, sama halnya dengan meneror dan berbuat anarki kepada seluruh manusia.

Dalam kaitannya dengan jihad (seperti yang digembor-gemborkan kaum ekstrimis), perlu untuk mendapatkan perhatian yang lebih. Seringkali para teroris membawakan ayat Al-Baqarah  190-191 sebagai landasan awal untuk menjustifikasi segala tindakan yang mereka lakukan.

وَقَٰتِلُواْ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ ٱلَّذِينَ يُقَٰتِلُونَكُمۡ وَلَا تَعۡتَدُوٓاْۚ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلۡمُعۡتَدِينَ ١٩٠وَٱقۡتُلُوهُمۡ حَيۡثُ ثَقِفۡتُمُوهُمۡ وَأَخۡرِجُوهُم مِّنۡ حَيۡثُ أَخۡرَجُوكُمۡۚ وَٱلۡفِتۡنَةُ أَشَدُّ مِنَ ٱلۡقَتۡلِۚ وَلَا تُقَٰتِلُوهُمۡ عِندَ ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡحَرَامِ حَتَّىٰ يُقَٰتِلُوكُمۡ فِيهِۖ فَإِن قَٰتَلُوكُمۡ فَٱقۡتُلُوهُمۡۗ كَذَٰلِكَ جَزَآءُ ٱلۡكَٰفِرِينَ ١٩١

Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas

Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Mekah); dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidil Haram, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), maka bunuhlah mereka. Demikanlah balasan bagi orang-orang kafir

 

Kata jihad mulai menjamur pasca tragedi WTC. Perburuan Barat terhadap umat Islam yang sarang terorisme, menimbulkan kekerasan-kekerasan yang akhirnya membangkitkan semangat umat Islam untuk anti terhadap Barat. Sehingga implikasinya terdapat segelintir umat Islam yang terbawa oleh mainstream untuk ikut ber-jihad seperti yang sedang hangat-hangatnya dikoar-koarkan oleh golongan tertentu. Namun belakangan kata jihad juga memasuki ranah dimana seorang diperbolehkan memerangi orang-orang yang berada di luar kelompoknya atau berseberangan dengan ideologi kelompoknya. Contohnya, perbedaan madzhab menjadi sebuah api pemantik yang bisa membakar jiwa seseorang untuk mendorongnya berjihad –berdasarkan analogi diatas-. Namun sekali lagi yang harus kita perhatikan, apa makna jihad?

Jihad dalam dunia modern sering diidentifikasi dengan perang. Bila ada tafsir lain mengenai jihad di luar perang, banyak sekali pihak yang menentangnya. Contohnya ketika banyak ‘ulama di Mesir yang memaknai jihad itu sebagai ikut berperang ke Afganistan, perang ke Iraq, perang ke Iran, Seyyed Thanthawi memberikan fatwa lain tentang jihad, yaitu mendidik anak, bekerja keras, berdoa bagi para pejuang, dan lain-lain[13]. Betapun para ‘ulama mencoba memaknai jihad, tetap saja keadaan lingkungan dan pre-kognisi mempengaruhi definisi mereka tentang jihad.

Rasulullah pernah mengatakan bahwa jihad terbagi menjadi 2, yaitu jihad asghar (kecil) dan jihad akbar (besar). Jihad asghar adalah jihad memerangi orang-orang musyrik, sedangkan jihad besar adalah jihad memerangi hawa nafsu. Dapat disimpulkan bahwa jihad dalam arti perang merupakan reaksi yang bersifat kondisional. Sebab dalam perang sudah pasti menelan korban yang sangat besar. Sedangkan jihad yang perlu mendapatkan perhatian adalah jihad untuk keluar dari kemiskinan, keterbelakangan, ketertindasan dan kebodohan. Hal-hal tersebut merupakan musuh riil yang dihadapi oleh masyarakat muslim pada umumnya[14].

Adapun surat Al-Baqarah 190-191 yang sering dijadikan alat justifikasi untuk tindak terorisme (red:jihad), ayat ini hendak menjelaskan tentang perintah perang dalam kerangka defensif, bukan ofensif. Artinya perang diperkenankan sejauh untuk mempertahankan dan melindungi jiwa dari serangan musuh. Disamping itu Tuhan berpesan agar tidak melampaui batas, karena Tuhan tidak menyukai yang berbuat hal tersebut. Perang diperkenankan sejauh mempertahankan wilayah kekuasaan dan menghilangkan fitnah.

Kesimpulan dari seluruh penjelasn diatas adalah bagaimana setiap individu memahami dan melaksanakan Islam secara komprehensif, sehingga tidak ada pemahaman yang terlalu dangkal atas tes-teks agama. Tindakan fanatisme, radikalisme, terorisme, serta intoleransi berangkat dari dangkalnya pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang.

 

[1] Blog Septian D. Putranto mengenai definisi terorisme. Diakses pada tanggal 30 April 2014, jam 00.47

[2] http://m.tnol.co.id/blog-anda/15707-apa-itu-terorisme.htm diakses pada tanggal 30 April 2014, jam 01:34

[3] KBBI

[4] Meminjam istilah A. Syafi’I Ma’arif dalam bukunya Al-Qur’an dan Realitas Umat

[5] Ahmad Syafi’I Ma’arif, Al-qur’an dan Realitas Umat, hal. 62

[6] Prof.Dr.Mahmoud Hamdi Zaqzouq, Islam Dihujat Islam Menjawab, hal.71

[7] HR. Bukhari dalam al-adab al-Mufrad.

[8] Prof.Dr.Mahmoud Hamdi Zaqzouq, Islam Dihujat Islam Menjawab, hal.73

[9] Ibid hal.74

[10] QS. Al-Maidah : 32

[11] QS. Al-Baqarah : 136

[12] Prof.Dr.Mahmoud Hamdi Zaqzouq, Islam Dihujat Islam Menjawab, hal.78-79

[13] Zuhairi Misrawi, Alquran Kitab Toleransi, hal.385

[14] Ibid hal.388

Advertisements