Ibnu Katsir mengatakan ( Tafsir Al Quran Al Azhim, I / 255 ), Imam Ahmad meriwayatkan, berkata Hudzaifah bin Yaman, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam jika ditimpa permasalahan (kesulitan, kesedihan, kesusahan, berat), beliau melakukan shalat” (H.R Abu Dawud).

Itulah kunci dari kunci-kunci kehidupan sebagaimana yang telah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam contohkan.  Lalu, bagaimana dengan shalat kita ? Apakah masih sekadarnya saja? Mari kita perbaiki shalat kita, yaitu dengan mempelajari hukum-hukum yang terkait di dalamnya, yaitu syarat sah shalat, rukun-rukun shalat, wajib dan Sunnah shalat.  Dan tentu saja, yang terkait dengan shalat adalah mempelajari bab berwudhu.  Karena wudhu yang tidak sah, maka shalatnya juga tidak sah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Allah tidak menerima shalat salah seorang di antara kalian apabila dia berhadats sebelum berwudhu.” (HR. Bukhari, dari hadits Abu Hurairah radhiallahu anhu dalam Bab Wudhu)

Kesemuanya ini adalah satu hal yang wajib untuk dipelajari bagi orang-orang yang menginginkan kebaikan dan perbaikan dalam shalatnya.

Dihinakan Allah: Orang yang Meremehkan dan Melalaikan Shalat

Dan sebaliknya, sebagaimana telah kita singgung di awal pembahasan, orang yang meremehkan shalat, dia akan dihinakan Allah. Allah subhanahu wata’ala berfirman : “Dan barangsiapa dihinakan Allah, maka tidak ada seorangpun yang bisa memuliakannya” ( QS Al Hajj : 40 ).

Syaikh Dr. Umar bin Abdullah bin Muqbil mengatakan, “Dan ketika sujud kepadaNya telah menjadi hal remeh bagi mereka, mereka bermudah-mudahan di dalamnya dan tidak melakukannya, maka Allah pun akan menghinakan mereka hingga tak ada seorangpun yang mampu memuliakannya setelah Allah hinakan” ( Qowaid Quraniyyah, hal 130 ).

Hal ini selaras dengan firman Allah yang mengancam umatNya dalam hal meremehkan shalat : “Kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, yaitu yang lalai dari shalatnya” ( QS Al Maa’uun 4-5 ).

Lalu, apakah yang dimaksud dengan orang yang lalai dalam shalat ?

Syaikh Utsaimin menjelaskan mengenai tafsir ayat ini, “Mereka adalah orang-orang yang shalatnya berjamaah atau sendiri tapi mereka lalai atas shalatnya, yaitu lupa terhadapnya, tidak menegakkan sebagaimana mestinya, mengakhirkan waktunya dari yang lebih utama, tidak lurus dalam rukuk, sujud, berdiri dan tidak membaca yang wajib dibaca, baik yang berupa bacaan quran atau dzikir, hatinya berkeliling ke kanan dan kekiri dan dia lalai akan shalatnya.  Dan termasuk orang yang lalai adalah orang yang meninggalkan shalat berjamaah”. ( Tafsir Juz Amma, 331 )

Ibnu Abbas, dalam Tafsir Al Quranul Azhim, 8/493, “Itu adalah orang-orang munafik yang mengerjakan shalat ketika ada orang banyak dan tidak mengerjakannya ketika dalam kesendirian.  Mereka rajin mengerjakannya, hanya saja di dalam mengerjakannya lalai pada waktu yang telah ditentukan sehingga keluar dari waktunya.  Baik lalai dari awal waktunya sehingga mereka mengerjakan di akhir waktu shalat secara terus menerus dan menjadi kebiasaan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Itu adalah shalatnya orang munafik, Itu adalah shalatnya orang munafik, Itu adalah shalatnya orang munafik. Dia duduk menunggu matahari dan ketika matahari sudah berada di antara kedua tanduk setan (yakni akan tenggelam), maka ia berdiri (untuk shalat) lalu mematuk-matuk (shalat dengan sangat cepat) empat rakaat, tanpa berdzikir kepada Allah di dalamnya, melainkan hanya sangat sedikit.

 

Ia shalat dengan sangat cepat sekali, tidak tuma’ninah dan tidak khuyuk. Ia melakukan shalat hanya sekadar untuk pamer dan tidak mengharap ridho Allah.  Maka orang yang seperti ini sama kedudukannya dengan orang yang tidak mengerjakan shalat sama sekali. Allah azza wa jalla telah berfirman:

Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk salat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan salat) di Hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali. (An-Nisa: 142)

Oleh karena itu, marilah kita bersemangat dalam mempelajari dan mengerjakan shalat. Shalat adalah tiang agama, shalat adalah amalan yang pertama kali dihisab pada hari kiamat kelak. Shalat merupakan amalan agama yang paling terakhir hilang, jika shalat hilang dari agama, maka tidak ada lagi yang tersisa dari agama. Shalat juga merupakan hal terakhir yang diwasiatkan Nabi kepada umatnya. Dari Ummu Salamah radhiyallahu anha, beliau berkata :

Jagalah shalat, jagalah shalat dan budak-budak yang kalian miliki” ( HR Ahmad, dan di shahihkan oleh Al Albani dalam Irwaul Ghalil ).

Allah juga memuji orang-orang yang mengerjakannya, dan mereka yang menyuruh keluarganya mengerjakannya.  Allah mencela orang-orang yang mengabaikan dan malas mengerjakannya.  Allah membuka berbagai amal perbuatan orang-orang yang beruntung dengan shalat dan mengakhirinya dengan shalat pula.

Lalu, apa alasan kita meremehkan shalat ?

Di antara tanda meremehkan adalah, kita sudah tahu hal-hal di atas, namun masih saja selalu melakukannya dan tidak ada perbaikan di dalam sholatnya. Na’udzubillah

Advertisements