Imam Besar Al-Azhar Ahmed el-Tayeb. ©2017 aawsat.com

Imam Besar Al-Azhar Ahmed Mohamed Al-Tayeb mengajak masyarakat Indonesia menghormati perbedaan. Sebab, pada dasarnya manusia diciptakan berbeda-beda.

“Sudah diatur dalam Alquran bahwa manusia diciptakan tidak sama satu dengan yang lain. Ini ada dalam tiga prinsip yang diatur dalam Al Quran dan diterapkan di Al-Azhar,” katanya pada kuliah umum di Kampus Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) di Kabupaten Sukoharjo, Rabu.

Dia menambahkan, prinsip lain yaitu Allah menciptakan ideologi dan keyakinan yang berbeda-beda kepada umat manusia.

“Jadi tidak mungkin seseorang dapat menggiring manusia dengan satu pemikiran saja bahkan satu bahasa saja. Mustahil jika kita ingin menjadikan manusia sebagai muslim semuanya,” katanya.

Al-Azhar menghargai semua mazhab yang ada. Caranya dengan menghargai perbedaan dan pendapat masing-masing. Meskipun berbeda pendapat semuanya adalah Islam, jangan mudah mengkafirkan orang,” tegasnya.

Menurut dia, jika ada seseorang yang memaksakan orang lain untuk masuk Islam dengan dibumbui konsekuensi, maka hal itu bertentangan di ajaran Islam.

“Kita harus menjamin hak-hak mereka dan Allah mengatakan siapa yang ingin beriman silakan, siapa yang memilih kufur silakan. Ada banyak pemikiran yang salah di mana banyak yang memaksakan keinginan orang lain untuk mengikuti keyakinan mereka,” katanya.

Keyakinan ada dalam hati, sehingga tidak ada gunanya mengatakan kewajiban seseorang untuk meyakini suatu keyakinan.

“Kita tidak bisa juga memengaruhi orang agar memeluk keyakinan tertentu dengan iming-iming harta atau jabatan,” katanya.

Pada kesempatan yang sama, Menteri Agama Lukman Hakim mengatakan Ahmed Mohamed Al-Tayeb sudah beberapa kali mengunjungi Indonesia.

Menurut dia, hal itu menunjukkan besarnya perhatian Grand Syeikh Al-Azhar tersebut kepada Indonesia.

“Pada kunjungan kali ini beliau sekaligus ingin menebarkan nilai- Wasatiyyat Islam atau Islam moderat yang selama ini beliau gaungkan,” katanya.

Selain itu, katanya, keberadaan Muhammadiyah sebagai organisasi dengan jumlah anggota yang banyak dan berusia lebih dari 106 tahun telah memberikan kontribusi luar biasa dalam menebarkan nilai Wasatiyyat Islam di Indonesia.

“Kehadiran Grand Syeikh (Imam besar) tentu makin menyemangati kita bagaimana nilai Wasatiyyat Islam terus bisa digaungkan agar lebih proaktif. Tantangannya tidak sederhana, apalagi di tengah globalisasi dan banyaknya praktik terorisme,” katanya.

Menurut dia, keberadaan Al-Azhar makin relevan bukan hanya untuk Indonesia tetapi juga dunia dalam rangka merawat keberagaman agar kerukunan bisa terwujud.

“Menghadirkan wajah Islam yang moderat melalui nilai Wasatiyyat Islam dalam kehidupan bermasyarakat hakikatnya adalah upaya berkelanjutan dalam menebarkan kedamaian dan mewujudkan kerukunan serta keadilan di Indonesia,” katanya.

Advertisements